Kesaksian
Logo Doa Harian

Search Our Site

Sebut saja pak Sigit yang tinggal di sebuah pinggiran kota Malang.
Dia bersyukur karena bisa bekerja di sebuah perusahaan bubur. Perusahaan bubur yang selama ini menghidupi istri dan satu anaknya memang menjadi tempat bersandar bagi kebutuhan hidupnya setiap hari.


Namun, apa mau dikata  cobaan itu harus menerpanya. Majikan yang memiliki perusahaan bubur ayam itu tiba-tiba tidak bisa melanjutkan usahanya. Tidak ada kejelasan tiba-tiba perusahaan makanan bubur itu tutup. Ambruklah harapan pak Sigit untuk memiliki penghasilan. Beruntung pak Sigit percaya kepada Tuhan Yesus. Ia menangis di hadapan Tuhan yang menjadi juru selamat. Ia berdoa dan berdoa.
Sampai pada waktunya ia mendapat nasihat seorang hamba Tuhan,
"Pak, coba bikin sendiri, kan pak Sigit bisa kan".
Nasihat itu dicoba, dan segera sebelum uang tabungannya habis untuk makan, dia  cari tempat untuk berjualan.

Awal dari pada pembukaan berjualan itu hamba Tuhan itu datang di warung dan berdoa, dengan suara keras, supaya warung itu menjadi sarana Tuhan memberkati keluarga pak Sigit. Ia meyakini bahwa doa itu didengar oleh Tuhan. Mulailah ia berjualan sendiri tidak menjadi buruh lagi.

Satu hari, dua hari, sampai akhirnya sebulan, mulai banyak orang  mengenalnya. Dan warung bubur itu dinamakan Glory.  Pak Sigit merasa diberkati, bahkan hotel-hotelpun memesan buburnya. Tangan Tuhan ada di atasnya, buka jam 7 habis jam 9 pagi. Pak Sigit sungguh mengucapkan syukur kepada Tuhan. Ia di berikan langganan, diberkati setiap usahanya, tidak lupa perpuluhannya dilakukan, karena jika memberikannya dengan tulus, tingkap berkat dari langit akan dibukakan baginya. Dan itu benar.
"Benar pak, tidak cukup untuk berdoa, namun harus belajar melangkah".
Menurut pak Sigit, penghasilannya lebih dari cukup, tidak pernah dia bayangkan. Luar biasa. Jika Tuhan ingin memberkati seseorang sepertinya   hanya membalikkan tanganNya saja.

TIDAK CUKUP HANYA BERDOA HARUS MELANGKAH.

- Penulis : Bpk. Pudjianto