Kesaksian
Logo Doa Harian

Search Our Site

Seorang dokter memberi kesaksian, dia pernah melakukan operasi terhadap gadis kecil yang hanya mempunyai harapan 10% saja untuk hidup.

Ketika para perawat sedang mempersiapkan pembiusan, gadis kecil ini bertanya kepada saya
"Dokter bolehkah saya menanyakan sesuatu ?"
"Ya sayang, apa yang ingin kamu tanyakan?"....
"Setiap malam sebelum tidur saya selalu berdoa, sekarang sebelum operasi dimulai, bolehkah saya berdoa?"
"Baiklah anak manis, engkau memang harus berdoa, jangan lupa berdoa juga untuk saya."

Sebut saja pak Sigit yang tinggal di sebuah pinggiran kota Malang.
Dia bersyukur karena bisa bekerja di sebuah perusahaan bubur. Perusahaan bubur yang selama ini menghidupi istri dan satu anaknya memang menjadi tempat bersandar bagi kebutuhan hidupnya setiap hari.

Kesaksian dan detail kejadian pada saat Ledakan Bom di GBIS Kepunton, Solo.
Ditulis sendiri oleh Pdt. Jonatan Jap Setiawan

 

I. 10:53

Minggu 25 September 2011 jam 10:45. Ibadah baru saja usai. Doa berkat telah selesai disampaikan. Jemaat sedang berjalan keluar dari dalam gedung Gereja. Pemuji dan pemusik sedang menaikkan puji-pujian.

Baru saja, Pdt. Sigit Purbandoro dari Surabaya menyampaikan Firman Tuhan mengenai “Pertolongan Tuhan” yang terambil dari Mazmur 121:1-8. Semuanya kelihatannya berjalan dengan lancar sepereti biasanya.

 

Tiba-tiba terdengar ledakan keras. Puji-pujian langsung berhenti. Saya berpikir speaker sound system yang meledak. Saya langsung berlari ke tengah mimbar dan dari atas mimbar terlihat ada asap putih mengepul dari pintu depan. Asap cukup tebal sehingga pandangan ke luar pintu tidak terlihat. Saya langsung berpikir “Wah bom!” Langsung saya berlari seperti melompat dari mimbar ke tempat kejadian.

 

Sejak beberapa waktu yang lalu, saya menjalani devosi kepada Para Kudus. Misalnya kepada St. Antonius dari Padua yang konon adalah pelindung bagi orang-orang yang kehilangan barangnya.
Suatu ketika kunci sepeda motor saya hilang entah ke mana. Saya cari-cari tidak kunjung ketemu juga. Sampai saya akhirnya putus asa, lalu saya berdoa mohon perantaraan beliau.