Beranda
Logo Doa Harian

Search Our Site

MENU
Doa dalam Kehidupan Kristen Di bawah ini adalah beberapa pertanyaan mengenai Doa yang jawabnya kita temukan di buku YOUCAT (Youth Cathecism)

Doa berarti mengarahkan hati kepada Allah. Ketika seseorang berdoa, ia masuk dalam hubungan yang hidup dengan Allah. [2558-2565]

Kita berdoa karena kita sangat rindu kepada Allah, dan Allah menciptakan kita untuk DiriNya: "Hati kami gelisah sebelum beristirahat di dalam Engkau" (Santo Agustinus). Kita berdoa karena kita membutuhkan. Ibu Teresa berkata: "Karena saya tidak dapat bersandar pada diri sendiri, saya bersandar pada Allah dua puluh emat jam sehari." [2566-2567, 2591]

Abraham mendengarkan Allah. Dia mau pergi ke mana pun yang diperintahkan Allah dan melakukan apa yang dikehendaki Allah. Dengan sikap mendengarkan dan kesiapsediaannya untuk suatu awal baru, Abraham adalah model untuk doa kita.

Dari Musa kita belajar bahwa "doa" berarti "bercakap-cakap dengan Allah". Dalam semak yang menyala, Allah membuat percakapan nyata dengan Musa dan Allah memberinya suatu tugas. Musa mengajukan keberatan dan pertanyaan. Akhirnya, Allah menyatakan kepada Musa namaNya yang kudus. Seperti Musa yang kemudian percaya kepada Allah dan menjalankan pelayanannya dengan sepenuh hati, maka kita pun harus berdoa dan masuk "sekolah Allah". [2574-2577]

Kitab Mazmur, bersama Doa Bapa Kami, merupakan bagian dari harta karun doa Gereja. Dalam Kitab Mazmur, pujian pada Tuhan dinyanyikan dengan cara yang hidup.

Yesus belajar berdoa dalam keluarga-Nya dan di sinagoga. Namun, Yesus menerobos batas-batas doa tradisional. Doa-Nya menunjukkan suatu kesatuan dengan Bapa-Nya di surga yang hanya mungkin bagi seorang Anak Allah.

Devotion from Matius 6:9-15
“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”
Kita melanjutkan pembahasan Doa Bapa Kami ini dengan permohonan berikutnya, yaitu di dalam ayat 11. Setelah mendoakan hal-hal yang paling utama tentang Allah dan kehendak-Nya, Yesus mengajarkan murid-murid-Nya perihal meminta kepada Tuhan. Anak-anak Allah tentu berhak meminta kepada Bapa mereka yang di surga. Tetapi Tuhan Yesus mengajarkan di sini untuk meminta karena kebergantungan kepada Tuhan, bukan karena keserakahan.


Ini dua motivasi yang berbeda sama sekali. Yang satu meminta karena dia tahu bahwa Tuhan adalah penopang hidupnya. Tetapi yang lain meminta karena dia menginginkan sesuatu dan sesuatu itu harus dipenuhi dengan segera. Motivasi memohon harus dipelihara dan dijaga. Maka Tuhan Yesus mengajar umat-Nya untuk meminta kepada Bapa sebagai pengakuan bahwa Bapa di surgalah yang memelihara dan menopang hidup mereka. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan di dalam ayat 11 agar permintaan umat Tuhan adalah permintaan mengenai hal yang mendasar. Hal-hal yang harus kita cari dan tanpanya kita tidak bisa hidup. Tuhan tidak mengajarkan umat-Nya untuk meminta udara. Udara tidak perlu dicari. Tetapi makanan adalah sesuatu yang sangat dasar dan harus diusahakan dengan tangan kita sendiri. Permohonan ini mencegah kita untuk bergantung kepada tangan kita sendiri dalam mendapatkan makanan, juga menyatakan pengakuan kita bahwa Tuhanlah yang memelihara hidup kita.

Ayat 11 mengatakan “berilah kami pada hari ini”. Ini berarti kebergantungan kita kepada Allah harus dilakukan hari demi hari. Sebab jika permintaan kita adalah agar Tuhan mencukupkan untuk hari ini saja, berarti besok kita harus berdoa lagi kepada Tuhan. Doa ini mengajarkan kepada kita untuk menyadari bahwa tidak ada apa pun yang pasti di dunia ini, bahkan makanan pokok kita pun tidak tentu bisa kita dapatkan lagi. Hanya penyertaan Tuhan saja yang pasti, dan hanya dengan mengandalkan Dialah kita dapat memperoleh ketenangan. Itulah sebabnya doa ini mengatakan “berilah makanan kami pada hari ini”. Lalu selanjutnya dikatakan “yang secukupnya”. Ini kalimat yang mencegah kita menjadi serakah. Doa bukanlah agar kita dapat hidup mewah. Doa adalah supaya kita dapat bergantung kepada Tuhan. Jangan serakah jikalau permintaan itu untuk diri sendiri. Makanan secukupnya untuk hari ini. Ini adalah permintaan agar Tuhan memberikan kita hidup yang sederhana.

“ampunilah kami akan kesalahan kami”
Kalimat berikutnya mengajarkan kita untuk mengakui kesalahan kita kepada Allah dan melihatnya sebagai hal yang sangat besar dan sangat kotor. Tuhan Yesus mengajarkan betapa pentingnya untuk memohon pengampunan di dalam doa. Tetapi perlu diingat bahwa ini adalah doa yang diajarkan Tuhan Yesus untuk didoakan oleh para murid, bukan doa yang didoakan oleh Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak perlu berdoa meminta ampun karena Dia tidak berdosa. Pengakuan dosa di dalam doa ini akan terus mengingatkan kita akan posisi kita dan anugerah Tuhan. Permohonan ini bukanlah suatu formula kalimat saja. Ini tidak berarti setiap kali kita berdoa harus ada kalimat “ampunilah kami…” tetapi ini berarti bahwa setiap kali kita berdoa kita sadar betapa besar dosa-dosa kita dan betapa kita tidak layak untuk menghadap Dia di dalam doa. Pengertian ini sangat menyadarkan kita akan anugerah-Nya yang tetap memperbolehkan kita datang kepada Dia untuk berdoa kepada-Nya meskipun kita cemar dan penuh dosa.

“seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”
Pada bagian ini Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk menyadari bahwa besarnya dosa-dosa kita membuat kita tidak mempunyai alasan untuk tidak mengampuni kesalahan orang lain kepada kita. Salah satu tanda kita sadar anugerah pengampunan adalah kita pun sanggup mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Tidak adil jika kita memohon diri kita diampuni sedangkan orang lain tidak kita ampuni. Itu sebabnya di dalam ayat 14 dan 15 Tuhan Yesus memberikan nasihat tambahan bahwa kerelaan kita mengampuni kesalahan orang lain akan dipakai Tuhan untuk menjawab doa kita. Tuhan tidak akan menjawab doa-doa kita sebelum kita mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita. Betapa pun beratnya, mengampuni adalah sesuatu yang harus kita lakukan karena Tuhan memerintahkannya kepada kita. Kerelaan kita mengampuni menunjukkan bahwa kita telah memahami sifat Allah yang penuh kasih.

Untuk direnungkan:

Dua permohonan yang kita bahas pada hari ini sangat berkait dengan kehidupan sehari-hari kita. Setiap hari kita memerlukan makanan. Setiap hari juga kita bertemu dengan orang lain. Setiap hari juga kita perlu menyadari ketidaklayakan kita dan betapa besar anugerah-Nya (Rat. 3:22-23). Dua permohonan ini mutlak diperlukan setiap hari. Tetapi sudahkah kita mendoakannya dengan kesungguhan hati? Tentu sulit berdoa memohon makanan setiap hari kalau persediaan makanan kita begitu melimpah. Bagaimana kita bisa meminta makanan untuk hari ini dengan segenap hati kalau kita tidak pernah melihat kekurangan? Hal pertama untuk menjawab pertanyaan ini adalah bahwa doa kita bukan hanya untuk diri sendiri. Bukankah kata yang dipakai adalah “kami”, dan bukan “saya”? Kalau kita berkelimpahan makanan, apakah itu berarti seluruh umat Tuhan tidak ada yang kekurangan? Cara berpikir yang egois membuat permohonan ini menjadi tidak relevan. Kita berdoa untuk umat Tuhan, bukan untuk kita saja. Bahkan jika kita mau tarik lebih luas lagi, kita sedang berdoa untuk orang-orang lain yang kekurangan meskipun mereka belum mengenal Tuhan Yesus (Luk. 4:25-26). Dan, sebagaimana pembahasan kita di hari yang lalu, doa yang hanya perkataan mulut, tanpa ada kerinduan yang sejati dari dalam hati untuk bertindak dan berkorban, adalah palsu. Kita berdoa agar Tuhan memberikan makanan secukupnya? Sudahkah kita juga memberikan makanan bagi mereka yang lapar? Hal kedua adalah bahwa meskipun kita mengalami kelimpahan makanan, kita tidak bergantung pada persediaan yang kita miliki. Persediaan makanan, uang, tabungan, investasi, semua itu bisa hancur hanya dalam satu hari (Ayb. 1:13-19). Kita mau mengandalkan kemampuan bisnis kita? Dalam satu hari bisa terjadi krisis ekonomi yang membuat bisnis kita hancur total. Kita mau mengandalkan ilmu pengetahuan kita? Dalam satu hari teknologi bisa berkembang ke arah yang membuat pengetahuan kita tidak lagi terpakai. Tidak ada yang bisa kita andalkan untuk terus menjaga adanya makanan meja kita setiap hari. Maka, meskipun sekarang kita sedang dalam keadaan limpah, tetaplah berdoa: “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya…”.

Mari renungkan juga relasi sosial kita! Apakah kita memiliki musuh? Apakah ada orang yang merugikan kita dengan sangat? Apakah ada orang yang membuat kita sakit hati dan tidak bisa pulih? Biarlah kita merenungkan ini, yaitu bahwa kita dahulu adalah musuh Tuhan. Kita merugikan Tuhan dengan menghina Dia dan kekudusan nama-Nya dengan berbuat dosa. Kita menyakiti hati Tuhan karena meskipun Tuhan terus memelihara kita hari demi hari, kita tidak mau menyembah Dia dan bersyukur kepada-Nya. Kita telah melakukan tindakan yang sangat berdosa kepada Dia yang menopang hidup kita. Jika Dia rela mengampuni kita, apalagi kita, yang tidak pernah menopang hidup siapa pun seperti Tuhan menopang kita. Pernahkah kita berjasa untuk tarikan nafas orang lain? Pernahkah ada orang yang berutang nyawa kepada kita karena setiap hari kitalah yang menyebabkan jantungnya terus berdenyut? Dosa kita kepada Allah jauh lebih besar daripada dosa musuh-musuh kita kepada kita. Ingatlah kasih dan pengampunan Tuhan! Ampunilah musuh-musuh kita! Kebencian adalah penyakit yang memakan habis emosi, jiwa, dan kesehatan kita. Pengampunan, sebaliknya, adalah kuasa kemenangan yang sejati atas kebencian dan murka. Tuhan rela mengampuni kita dengan mengorbankan Anak Tunggal-Nya. Kita harus rela mengampuni orang yang bersalah kepada kita dengan mengorbankan emosi di dalam diri kita.
Doa:
Tuhan, berikanlah kepada kami hati yang sadar bahwa kami bergantung mutlak kepada-Mu. Engkaulah pemelihara hidup kami. Engkaulah penuntun hidup kami langkah demi langkah. Engkaulah yang melampaui semua kerajaan dan kuasa dengan rencana-Mu yang adil dan mulia. Ajari kami, ya Tuhan, supaya sekali kami melihat kemuliaan-Mu, tidak ada lagi hal lain yang lebih kami kagumi. (JP)

* Sumber : http://pemuda.stemi.id/